LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

 

A. Perbedaan Larutan Berdasarkan Daya Hantar Listrik

Berdasarkan daya hantar listriknya, larutan terbagi menjadi dua golongan yaitu larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Sedangkan elektrolit dapat dikelompokkan menjadi larutan elektrolit kuat dan elektrolit lemah sesuai skema penggolongan berikut :

Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan listrik karena mengalami proses ionisasi(terurai menjadi ion positif dan negatif). Larutan Non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan listrik karena tidak terjadi proses ionisasi. Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan kuat karena mengalami ionisasi sempurna. Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang hanya mampu mengalami ionisasi sebagian sehingga dapat menghantarkan arus listrik dengan lemah. Larutan elektrolit kuat terdiri dari larutan yang berasal dari :

a.            Asam kuat, seperti HCl, H2SO4, dan HNO3.

b.            Basa kuat, seperti NaOH, KOH, dan Ca(OH)2

c.             Garam dari asam kuat dan basa kuat, seperti NaCl, KCl, CuSO4, dan KNO3

Larutan elektrolit lemah terdiri dari larutan – larutan yang berasal dari :

a.            Asam lemah, yaitu CH3COOH, HCN,

b.            Basa lemah, yaitu NH4OH

B.            Bagaimana Suatu Elektrolit Dapat Menghantarkan Arus Listrik ?

Seorang ahli kimia swedia Svante August Arrhenius (1859-1927) dari Swedia pada tahun 1887. Didasarkan pada teori ionisasi Arhenius, larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena di dalam larutan terkandung atom-atom atau kumpulan atom yang bermuatan listrik yang bergerak bebas. Atom atau kumpulan atom yang bermuatan listrik disebut ion. Ion – ion bergerak bebas karena zat – zat elektrolit yang dilarutkan dalam air akan terionisasi ( terurai menjadi ion – ion ), yaitu ion positif ( kation ) dan ion negatif ( anion ). Ion – ion tersebut berada dalam kesetimbangan dengan molekul netralnya. Perubahan suatu senyawa menjadi ion-ion dalam suatu larutan disebut proses ionisasi. Sementara itu, pada pelarutan zat – zat nonelektrolit dalam air tidak akan terjadi ion – ion ( zat nonelektrolit tidak terionisasi dalam air ) sehingga tidak dapat menghantarkan arus listrik.

Contoh : larutan HCl

Larutan HCl di dalam air mengurai menjadi kation (H+) dan anion (Cl-). Terjadinya hantaran listrik pada larutan HCl disebabkan ion H+ menangkap elektron pada katoda dengan membebaskan gas Hidrogen. Sedangkan ion-ion Cl- melepaskan elektron pada anoda dengan menghasilkan gas klorin.

Perhatikan gambar berikut.

Reaksi di katoda : 2H+ (aq) + 2e → H2(g)

Reaksi di anoda : 2Cl-(aq)  →  Cl2(g) + 2e

Total reaksi : 2H+(aq) + 2Cl- (g)  → H2(g) + Cl2 (g)

Adanya ion –ion yang dapat bergerak bebas didalam larutan dapat menyebabkan larutan tersebut menghantarkan arus listrik. Jadi, makin banyak jumlah ion yang berada dalam larutan, maka makin mudah larutan itu menghantarkan arus listrik.

Postingan Terbaru Lain-nya :